Puisi More Share Get link; Facebook; Twitter; Pinterest; Email; Other Apps; March 27, 2017 Puisi Karya Sapardi Djoko Damono : YANG FANA ADALAH WAKTU YANG FANA ADALAH WAKTU. Sapardi Djoko Damono. Yang fana adalah waktu. Kita abadi: memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga. sampai pada suatu hari.
LombaPuisi karya Sapardi Djoko Damono dengan judul yang fana adalah waktu yang dibawakan oleh siswa MA NW Tembeng Putik atas nama Sariatul Aini
Berikutadalah karya ilustrasi yang berjudul âTangan Waktuâ: Gambar 47: Judul Karya: âTangan Waktuâ, cat acrylic diatas kanvas dengan diameter 40 cm, 2016 sumber: dokumentasi pribadi Karya ilustrasi ini memvisualisasikan puisi âTangan Waktuâ dengan menggunakan bahan cat acrylic di atas kanvas dengan menggunakan teknik opaque dan
YangFana adalah waktuPuisi : Sapardi Djoko DamonoYang Fana Adalah WaktuKita AbadiMemungut detik demi detik, merangkainya seperti bungasampai pada suatu hari
Ilustrasi(inet) âDan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka.Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?â (Al Anâaam: 32) Ketika kita mencoba membuka mata untuk melihat lingkungan sekitar, maka alangkah sedihnya diri ini ketika melihat mereka
Dukungpenulis Indonesiana untuk terus berkarya. Judul: Yang Fana Adalah Waktu. Penulis: Sapardi Djoko Damono. Tahun Terbit: 2018. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama. Tebal: 146. ISBN: -7. Dalam novel ketiga berjudul Yang Fana Adalah Waktu, Sapardi Djoko Damono (SDD) melanjutkan kisah yang tak selesai di dua novel sebelumnya.
BerandaPuisi YANG FANA ADALAH WAKTU YANG FANA ADALAH WAKTU IlhamKae Minggu, Januari 31, 2016. YANG FANA ADALAH WAKTU . Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga. sampai pada suatu hari. kita lupa untuk apa "Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu. Kita abadi. 1978
Puisi"Yang Fana Adalah Waktu" karya Sapardi Djoko Damono dibacakan oleh Norman Adi Satria #puisi #sapardidjokodamono #normanadisatria #yangfanaadalahwaktu #
YangFana Adalah WaktuYang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bungasampai pada suatu harikita lupa untuk apaâTapi,
0 Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940. Hari ini, 19 Juli 2020, setelah menggenapkan usianya yang ke 80 tahun, Sapardi pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan kita semua di jagad sastra Indonesia. Meski jasadnya kini tak lagi ada, ia akan tetap mengada di antara larik-larik sajak, di sela-sela huruf sajaknya yang
a1HSx6. Return to Article Details Analisis Puisi âYang Fana Adalah Waktuâ Karya Sapardi Djoko Damono dengan pendekatan Stilistika Download Download PDF
BAB I PENDAHULUAN Analisis terhadap suatu karya sastra bertujuan untuk mengetahui makna apa yang disampaikan oleh si pengarang kepada pembacanya. Sebuah karya sastra lazimnya mengandung makna-makna yang belum dimengerti pembaca. Namun, dengan adanya penganalisisan akan membuat pembaca memahami maksud kepenulisannya. Pada makalah ini penulis akan menganalisis sebuah karya sastra dengan pendekatan stilistika. Terlebih dahulu stilistika itu sendiri adalah sebuah style atau gaya dalam kepenulisan karya, yang dimaksudkan untuk menjadikan sebuah karya tersebut memiliki gaya dan keindahan. Oleh sebab itu, penulis menganalisis salah satu puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul âyang fana adalah waktuâ. Penulis tertarik menganalisis puisi ini karena pengarang menyamakan sebuah keabadian antara manusia dengan waktu. Disisi lain Sapardi menyebut bahwa waktulah yang benar-benar abadi. BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Stilistika Stilistika adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa didalam karya sastra Abram dalam Al-Maâruf, 2009 10. Stilistika adalah proses menganalisis karya sastra dengan mengkaji unsur-unsur bahasa sebagai medium karya sastra yang dugunakan sastrawan sehingga terlihat bagaimana perlakuan sastrawan terhadap bahasa dalam rangka menuangkan gagasannya. Ratna dalam Al-Maâruf, 2009 10 menyatakan, stilistika merupakan ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra, dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya. pada kamis, 24 maret 2016 pukul 0404 WIB Sedangkan menurut Keraf 2005 Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retrorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah. Jadi, stilistika merupakan sebuah style atau gaya yang digunakan pengarang sebuah sastra dalam mencipta karya sehingga sebuah karya selain memiliki makna juga memiliki keindahan tersendiri. 2. Analisis puisi "Yang fana adalah waktu" karya Sapardi Djoko Damono. "Yang fana adalah waktu" Karya Sapardi Djoko Damono Yang fana adalah waktu Kita abadi Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa âTapi, yang fana adalah waktu, bukan?â tanyamu. Kita abadi. Pada puisi pengarang menyatakan bahwa ada seseorang yang menyebut bahwa waktu itu fana, sedangkan manusia itu abadi. Hal ini sangat bertentangan dengan kenyataan yang sesungguhnya. Sebelum itu, kita harus memahami terlebih dahulu makna fana dan abadi. Fana merupakan segala sesuatu itu dapat hilang dan idak dapat bertahan lama atau juga dimaksudkan bahwa tidak kekal. Sedangkan, abadi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah kekal dan tidak berkesudahan. Karena secara logika yang namanya makhluk tak ada yang abadi dan yang abadi adalah waktu. Sapardi membawa kita untuk menyadari bahwa sekarang ini manusia hanya menganggap dirinya masing-masinglah yang abadi. Pada puisi ini juga terdapat gaya bahasa berupa kiasan. Dikutip dari sebuah blog, dikatakan bahwa bahasa kias majas atau figurative language merupakan bahasa yang susunan dan arti katanya sengaja disimpangkan dari susunan dan arti semula. Itu bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan pertautan, perbandingan atau pertentangan hal satu dengan hal lain, yang maknanya sudah dikenal oleh pembaca. diunduh pada Kamis, 24 Maret 2016 pukul 0437 WIB Menurut Keraf 2005 136 menyatakan bahwa gaya bahasa kiasan ini pertama-tama dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan. Membandingkan sesuatu dengan sesuatu hal yang lain, berarti mencoba menemukan ciri-ciri yang menunjukkan kesamaan antara kedua hal tersebut. Perbandingan sebenarnya mengandung dua pengertian, yaitu perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa yang polos atau langsung, dan perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa kiasan. Perbedaan antara kedua perbandinan ini adalah dalam hal kelasnya. Perbandingan biasa mencakup dua anggota yang termasuk dalam kelas yang sama, sedangkan perbandingan kedua, sebagai bahasa kiasan , mencakup dua hal yang termasuk dalam kelas yang berlainan. 1. Metafora Gaya bahasa kiasan yang digunakan adalah gaya bahasa metafora yang membandingkan sesuatu secara lansung. Sapardi berusaha membandingkan antara manusia dengan waktu yang sebenarnya kedua hal tersebut tidak sama. Yang fana adalah waktu Kita abadi Pada baris puisi tersebut tampak bahwa âwaktuâ merupakan yang fana dibandingkan dengan âkitaâ yang abadi. Padahal keduannya sangat bertentangan dengan seharusnya. Sapardi bermaksud bahwa manusia saat ini lupa akan hakikat dirinya. Menganggap dirinya abadi dan lupa kodratnya sebagai makhluk. Bahkan lupa bahwa waktulah sebenarnya yang abadi. 2. Smile Bahasa kias yang membandingkan dua hal atau lebih yang hakikatnya berbeda, tetapi dianggap mengandung segi yang serupa. Keserupaan itu dinyatakan secara tersurat dengan kata bagai, sebagai, bak, semisal, seperti, ibarat, seumpama, laksana dan sebagainya. diunduh pada Kamis, 24 Maret 2016 pukul 0456 WIB Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga Pada baris ini ada sebuah gaya bahasa berupa simile. Kata âsepertiâ digunakan untuk membandingkan antara âdetikâ yang serupa dengan âbungaâ yang sebenarnya keduannya tidak memiliki hubungan. Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa âTapi, yang fana adalah waktu, bukan?â tanyamu. Kita abadi. Bait berikutnya juga menegaskan lagi bahwa manusia saat ini benar-benar lupa akan kodratnya. Jika dikaitkan dengan agama mereka hanya berlomba-lomba mencari kesenangan atau kenikmatan dunia tanpa memikirkan untuk apa semua hal itu ia lakukan. Mereka berfikir hidup itu masih lama dan perjalanan itu masih panjang. Mereka tidak memikirkan akhir dari kisah mereka masing-masing. Sekali lagi dalam puisi ini pada bait terakhirnya, ditegaskan bahwa merekalah yang benar-benar abadi, sedangkan waktu hanyalah sesuatu yang fana. Itulah beberapa ulasan puisi âYang Fana adalah Waktuâ dengan tinjauan stilistika. Kita disadarkan oleh makna-makna tersirat di dalamnya. Bahwasanya tak ada yang abadi di dunia ini kecuali waktu. Karena kita sebagai makhluk tuhan akan kembali ke asalnya. BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Puisi âYang Fana adalah Waktuâ menyadarkan kita oleh makna-makna tersirat di dalamnya. Bahwasanya tak ada yang abadi di dunia ini kecuali waktu. Karena kita sebagai makhluk tuhan akan kembali ke asalnya. Berdasarkan pendekatan stilistika didapat bahwa puisi tersebut mengandung gaya bahasa kiasan yang diantaranya simile dan metafora. Yang keduanya berusaha membandingan sesuatu hal secara lansung baik itu sama atau tidak. 2. Daftar Pustaka Keraf, dan Gaya Bahasa. Jakarta Gramedia.
Analisis Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono Puisi ini memiliki makna berupa kritik kepada manusia, bahwa manusia seringkali lupa akan kodratnya, yang digambarkan di dalam puisi ini dengan membuat pemahaman adalah manusia adalah sesuatu yang abadi, tidak terkalahkan, dan waktu adalah sesuatu yang fana, yang suatu saat dapat menghilang atau habis di dunia ini. Sapardi sengaja membuat puisi ini dengan pemahaman yang sarkastik dengan cara membalikkan kenyataan di dunia nyata bahwa manusia adalah makhluk yang fana dan waktu adalah sesuatu yang abadi, untuk mengingatkan manusia bahwa manusia bertingkah laku melebihi kodratnya, atau lebih tepatnya membuang-buang waktunya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, yang hanya memberikan kebahagiaan instan dan tidak terlalu berguna di kehidupannya. Sapardi ingin mengingatkan manusia-manusia yang sudah lupa kodratnya bahwa seiring waktu berjalan manusia akan bertambah tua dan pada akhirnya, ketika mereka sudah cukup tua dan tidak bisa melakukan apapun lagi, mereka akan tersadar bahwa hidupnya selama ini hanya diisi dengan hal-hal yang tidak penting, tidak membawakannya kebahagiaan yang dapat dia nikmati ketika waktunya di dunia ini hampir mencapai batas. Mereka yang lupa akan kodratnya sebagai manusia, akan menyesal di kemudia hari, ketika dia sudah tidak mampu melakukan apapun lagi untuk mengejar hal-hal yang dapat membahagiakannya; mereka dikalahkan oleh waktu. Dilihat dari sudut pandang dari literatur, puisi ini juga merupakan sebuah puisi kontemporer karena tidak membahas isu-isu yang berkaitan dengan hal-hal yang merupakan isu-isu yang sedang terjadi atau isu-isu sosial, dan tidak mengandung kritik bagi kelompok atau seorang individu; melainkan puisi ini memberikan kritik bagi manusia secara keseluruhan, karena seringkali manusia manapun lupa akan kodratnya sebagai seorang manusia. Konsep agama, yang mewajibkan manusia untuk tidak hanya mengejar hal-hal berbau duniawi, cocok untuk melengkapi makna dari puisi ini. Dalam sebuah agama, penganut agama tersebut diberikan perintah oleh tuhan mereka masing-masing untuk mempersiapkan diri mereka untuk kehidupan setelah kematian, yang mana harus dilakukan ketika mereka masih hidup dunia. Manusia dituntut untuk dapat membagi waktunya antara hal-hal duniawi dan untuk mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Implikasi yang terjadi bagi orang yang membaca dan menghayati puisi ini adalah mereka akan tersentuh dan akan merenung, memikirkan apakah hidupnya ini dia habiskan untuk mengejar hal-hal yang membuat mereka senang dan mereka berjalan di bumi ini dengan penuh kesombongan dan keangkuhan tanpa sadar bahwa suatu saat mereka akan meninggalkan dunia ini. Mereka akan merefleksikan apakah mereka telah menjalani hidupnya dengan baik dan membuat hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain selama masa hidupnya. Ide Utama Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono Ide utama dari puisi ini adalah kritik bagi orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk mengejar hal-hal yang tidak bermanfaat dan untuk mengingatkan bahwa suatu saat mereka akan meninggalkan dunia ini, dan seiring dengan waktu yang berjalan, kehidupan mereka menumpuk kesenangan yang fana dan tingkah mereka yang menyia-nyiakan waktu yang akan berubah menjadi penyesalan ketika mereka sudah tidak bisa melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan untuk mencari kebahagiaan, ketika mereka telah dikalahkan oleh waktu, yaitu ketika mereka menjadi tua dan mereka merefleksikan apa saja yang sudah mereka lakukan di dunia ini. Gaya Bahasa Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono Sudut pandang Walaupun tidak ditunjukkan dengan jelas di dalam puisi, puisi ini menggunakan sudut pandang dari orang pertama tanpa menggunakan kata subyek Aku. Sudut pandang ini ditunjukkan dengan cara bagaimana baris-baris di puisi itu menunjukkan jalan cerita. Baris satu sampai empat menunjukkan bagaimana tokoh utama dari puisi ini berpikir mengenai tujuan hidup dan pandangannya mengenai waktu. Baris kelima dan keenam menunjukkan bagaimana seseorang yang dia kenal membalas tentang pikiran keraguannya akan tujuan manusia hidup di dunia ini dan adanya kata âtanyamuâ yang menunjukkan bahwa kalimat di baris kelima disebutkan oleh yang sedang diajaknya berbicara mengenai keraguannya akan tujuan hidup dan pandangannya akan waktu yang adalah hal yang fana. Majas Metafora Metafora yang terdapat di puisi ini ditunjukkan dengan membandingkan waktu dan kita, yang dimana keduanya adalah hal yang tidak berhubungan satu sama lain. Tetapi Sapardi menyambungkan keduanya dengan menambah frasa âadalah hal yang fanaâ untuk waktu dan âadalah yang abadiâ untuk kata kita untuk menyampaikan kritiknya terhadap manusia yang lupa akan kodratnya, yang diibaratkan dengan frasa âkita abadiâ yang berfungsi sebagai sarkasme dengan âwaktu adalah hal yang fana.â Simile Simile di puisi ditunjukkan dengan penggunaan kata seperti untuk membandingkan âdetikâ yang serupa dengan âbungaâ yang sebenarnya tidak memiliki hubungan apapun secara harfiah, tetapi dalam makna dari puisi ini, detik berfungsi sebagai kiasan dari hidup bagi seorang manusia, sedangkan bunga berfungsi sebagai kebahagiaan yang dikejar-kejar oleh manusia sebagai tujuan sepanjang umur hidupnya. Tema Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono Tema dari puisi ini adalah waktu, dimana manusia seringkali melupakan kodrat dirinya dan merasa dirinya lebih besar dan lebih berkuasa di dunia ini dan seringkali membuang waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan demi kesenangan yang fana, dan pada akhirnya, ketika waktu mulai menunjukkan betapa abadi dan kekalnya mereka terhadap manusia, yaitu ketika manusia telah sampai di ujung hidupnya, mereka baru menyadari betapa sombongnya mereka dan bagaimana mereka menghabiskan hidupnya untuk hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Tone Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono Suasana yang ditunjukkan di dalam puisi ini adalah suasana kebingungan, karena tokoh utama yang mempunyai pemikiran bagaimana manusia adalah makhluk yang lebih perkasa dibandingkan dengan waktu, meragukan apakah benar pemikiran yang dia miliki itu adalah pemikiran yang benar, bahwa tujuan manusia di hidup ini adalah untuk melakukan apapun untuk mendapatkan kebahagiaan sampai akhir hayat hidupnya tanpa ada hal-hal lain yang harus mereka capai, tanpa perlu memikirkan apakah hal untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Kesimpulan Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono Puisi ini diluar dari cara penulisannya dan diksi yang berada di dalam puisi tersebut, dapat menunjukkan makna dan arti yang sangat dalam,menyentuh dan menginspirasi bagi mereka yang membacanya untuk tidak membuang-membuang waktu dan membuat manusia untuk berpikir sebelum melakukan sesuatu, dan juga menyadarkan manusia bagaimana kecilnya mereka di dunia ini. Sapardi mampu menyampaikan makna yang sangat bijaksana tetapi dengan menggunakan pilihan kata-kata yang sangat sedikit dan singkat tersebut dapat menyampaikan banyak hal yang sangat berguna bagi siapapun yang membaca dan menghayati puisi dari Sapardi ini. Whether youâre aiming to learn some new marketable skills or just want to explore a topic, online learning platforms are a great solution for learning on your own schedule. You can also complete courses quickly and save money choosing virtual classes over in-person ones. In fact, individuals learn 40% faster on digital platforms compared to in-person learning. Some online learning platforms provide certifications, while others are designed to simply grow your skills in your personal and professional life. Including Masterclass and Coursera, here are our recommendations for the best online learning platforms you can sign up for today. The 7 Best Online Learning Platforms of 2022 Best Overall Coursera Best for Niche Topics Udemy Best for Creative Fields Skillshare Best for Celebrity Lessons MasterClass Best for STEM EdX Best for Career Building Udacity Best for Data Learning Pluralsight